1001 Wisata di 1001Berita.com. Wiladeg, bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta di dataran yang lebih tinggi yang merupakan bukit-bukit kapur. Perjalanan dari Bandara Adisucipto menuju desa Wiladeg, di Gunungkidul, Wonosari bisa ditempuh sekitar 1 jam dengan mobil pribadi, dan sekitar 2 jam jika menggunakan angkutan umum. Dalam perjalanan menuju Wonosari, di kiri atau kanan jalan, kita akan melihat hutan jati, kemudian sawah-sawah padi dan ladang jagung. Di siang hari, saat musim kemarau, udara terasa sangat panas, sungai bisa kelihatan hingga dasarnya yang kering. Berbeda dengan keadaan di malam hari, udara sangat dingin. Tapi disini masih sangat segar dan sangat nyaman, jauh dari asap kendaraan bermotor, jauh dari polusi pabrik dan sangat minim bising dari knalpot kendaraan bermotor. Susah mencari macet di sini kecuali saat musim lebaran dan musim pulang kampung karena liburan sekolah.
reog wiladeg


Yang paling ingin dimakan saat tiba di Wiladeg adalah tempe goreng yang sebelumnya adalah tempe dibungkus daun jati. Warga di desa wiladeg kebanyakan adalah petani jagung dan peternak sapi. Masih banyak penduduk yang menggunakan kompor kayu bakar untuk memasak. Jangan salah sangka, nasi yang dimasak menggunakan kompor kayu bakar sama atau lebih enak dibandingkan dengan nasi yang dimasak dengan kompor gas atau rice cooker. Malam hari, kalau bosan atau tidak mau nonton TV, sesekali lakukan bakar singkong atau jagung, tidak perlu mahal, tinggal petik di kebun sendiri dan mulai bakar singkong jagungnya sambil berbicara dengan keluarga atau tetangga. Jangan lupa untuk melengkapinya dengan secangkir kopi atau teh manis. Kalau kecapean, bisa sambil tiduran dan melihat banyaknya bintang di langit. Bintangnya ada banyak, karena disini udaranya bersih.

Masih belum puas ? Coba rasakan wisata kuliner di malam hari. Ada 2 pilihan tempat yang berkesan dan pernah penulis coba, yaitu makan tongseng sapi, tongseng kambing dan tongseng ayam. Tempat pertama di simpangan pasar di Ponjong, bisa lesehan, bisa juga sambil duduk. Tempat kedua di Pasar Wonosari. Jam 7 malam hingga jam 2 pagi, ke 2 tempat tadi paling enak untuk dikunjungi. Ini baru citarasa asli lidah orang Indonesia, gurih, nikmat, maknyus. Buat yang tidak suka tongseng, tidak perlu kuatir, ada sate ayam, sate kambing, sate sapi, mie kuah, bakso, pecel lele, pecel ayam, bebek goreng, nasi liwet, nasi gudeg dan ikan goreng.

Kalau beruntung, saat mengunjungi Wiladeg, kita bisa menjumpai dan merasakan Wisata Budaya di sana. Reog Wiladeg, menggambarkan tarian prajurit mataram. Musiknya sangat khas, ada tabuhan gendang, drum dan gamelan. Gerakan tarinya juga sangat unik karena gemerincing lonceng di kaki para penari. Kalau penasaran dan ingin melihat langsung, silahkan bertanya pada pengurus desa, kapan ada acaranya, atau bagaimana cara menggelarnya. Sekali lagi penulis beruntung karena bisa menyaksikan acara wayang kulit semalam penuh, dari jam 7 malam hingga jam 5 pagi dengan judul 'Pandawa kalah judi'. Walaupun tidak mengerti bahasa jawa yang disampaikan bapak dalang, karena di terjemahkan sedikit-sedikit oleh pakde, ceritanya cukup bisa dimengerti. Alunan gamelan, suara gendang dan ketokan palu bapak dalang sudah cukup menghibur dan memberi kesan mendalam, ditambah nyanyian sinden-sinden sing ayu-ayu.

Cukup dahulu hasil liputan penulis di Wiladeg, masih ada banyak hal menarik yang belum penulis sampaikan seperti obyek wisata di Wonosari yaitu pantai Baron, pantai kukup, air terjun sri gethuk dan tempat lainnya. Tunggu saja ya, pasti akan disampaikan, hanya disini di 1001berita.com.

Silahkan mampir ke Wiladeg, rasakan wisata kuliner yang khas dan hilangkan penat stress karena rutinitas anda. Silahkan share ke facebook atau twitter, jika anda suka dengan artikel ini.

I love Yogyakarta, i hope you too. See and feel it yourself, here in Yogyakarta.