1001 Wisata di 1001Berita.com. Malioboro, jalan di Yogyakarta yang paling ramai dilewati dan dikunjungi oleh banyak orang dari dalam dan luar negeri. Jika berjalan dari stasiun tugu, di sisi kiri jalan Malioboro, sangat mudah untuk menemukan warung makan atau warung tenda yang menyajikan bakso, pecel ayam, pecel lele, bebek goreng, nasi liwet, nasi gudeg dan mie ayam. Orang bilang, pusat kotanya Yogya itu adalah jalan Maliboro, tidak salah jika dikatakan demikian, jalan ini ramai karena ada beberapa hotel, pusat perbelanjaan modern dan tradisional, ada restoran cepat saji dan restoran yang menawarkan masakan khas Yogya, juga pertokoan di sepanjang jalan Malioboro. Jika berjalan terus hingga ujung Malioboro akan di temukan suatu tempat simpangan jalan yang dinamakan 'Titik Nol'. Kalau mau merasakan Malioboro yang berkesan mendalam, coba berjalan di malam akhir pekan, hingga ke ujung Malioboro, mudah ditemukan pemuda pemudi bergerombol yang juga menikmati malam mingguan. Tidak masalah jika tidak punya banyak uang, cukup minum secangkir kopi atau teh manis hangat, sambil lesehan, akan ada hiburan live music dari pengamen jalanan. Lagunyapun bervariasi, dari dalam dan luar negeri, lagu tempo doeloe hingga lagu paling baru.
delman malioboro


Di tepian kanan jalan Malioboro, berjajar rapi pedagang yang menawarkan baju batik, sendal, tali pinggang, blangkon, wayang kulit, keris, aneka kerajinan tangan seperti becak-becakan, kipas, tas dan dompet. Persis di belakang para pedagang ini, ada juga barisan becak dan delman yang siap mengantarkan para pendatang untuk keliling Malioboro. Yang hebat, mereka tidak berebut penumpang, hanya menawarkan wisata belanja sambil keliling Malioboro. Siang hari, paling enak minum es cendol atau es dawet di pedagang yang membawa gerobak es, cuma 2500 rupiah bisa segar kembali. Malam hari, paling enak minum wedang ronde atau wedang jahe, hangat dan manis seharga 3000 rupiah. Harga ini saat penulis menginap 2 malam di hotel di jalan Malioboro pada 17 dan 18 Agustus 2012. Dapatkan sensasinya di Malioboro dengan naik becak atau delman. Naik becak harga sekitar 40 ribu maksimal 2 orang dewasa, naik delman juga dengan harga kisaran 40 ribu hingga 60 ribu dengan maksimal 4 penumpang dewasa. Cukup pantas dan puas dengan harga itu, kita akan di bawa ke lapangan alun-alun keraton Jogya dengan pohon beringin besar, masuk ke musium kuda kerajaan, masuk ke toko batik, masuk ke toko pakaian dan kaos. Mereka tidak mengenakan tarif tambahan karena menunggu penumpang belanja atau sekedar melihat isi toko, mereka sabar menunggu sambil berbincang-bincang dengan sesama pengemudi becak atau delman. Yang unik dari kaos yang ditawarkan adalah gambar dan 'Kata-kata' di kaosnya. Sangat kreatif, lucu dan kadang nyentil. Harganya bervariasi dari 30 ribu hingga ratusan ribu ada di sana. Penulis tertarik dan membeli kaos kuning seharga 100 ribu bertuliskan "Mari O Boros, Djogja Metroplesetan". Perjalanan di lanjutkan  menuju toko Bakpia dan aneka makanan khas untuk oleh-oleh dari Yogyakarta. Tidak cuma melihat, agar puas, penulis ikut mencoba dan membeli getuk, makanan dengan bahan dasar singkong, lanting, peyek, bakpia keju dan bakpia kacang hijau. Jangan takut untuk diantar masuk oleh tukang delman atau tukang becak ke toko-toko makanan khas tadi, biarpun cuma melihat-lihat, mereka akan tetap tersenyum manis dan ramah pada setiap pengunjung yang datang.

Sekian dulu hasil jalan-jalan penulis ke Yogyakarta. Silahkan coba sendiri dan datang menikmati Malioboro. Bukan sulap, bukan sihir, kalau ketagihan datang ke Yogyakarta itu bukan karena artikel ini, tapi karena Malioboro akan selalu menyambut setiap orang yang datang dengan keramahan. Kalau suka dengan artikel ini, jangan lupa share ke Facebook dan Twitter ya, sekalian Promo Yogyakarta dan Promo Indonesia.

Feel free to visit and enjoy Malioboro at Yogyakarta, another good place to remember. It's only happen in Indonesia.